22 Kelurahan di Kota Semarang Dinyatakan Sudah Zero Stunting

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, M. Abdul Hakam
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, M. Abdul Hakam

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang, M. Abdul Hakam menyebut ada 22 kelurahan di Kota Semarang yang sudah zero stunting atau nol persen untuk kasus stuntingnya.


Dari data hingga bulan Agustus kasus stunting di Kota Semarang sudah turun pada angka 1.022 kasus padahal pada bulan Februari 2023, angka stunting di Kota Semarang tercatat sebanyak 1.340 kasus. Angka tersebut turun menjadi 1.297 kasus pada Maret 2023. Kemudian, pada April kembali mengalami penurunan menjadi 1.277. Namun, pada Mei 2023 justru naik satu kasus menjadi 1.278 kasus. Selanjutnya, pada Juni 2023, angka kasus berada pada 1.270 kasus.  

"Data cut off hingga Agustus ini hasilnya sudah 1022. Bahkan 22 Kelurahan sudah dinyatakan zero kasus," kata Hakam, Senin (18/9).

Hakam menyampaikan pada bulan Agustus dibeberapa Kekurahan penurunan angka stuntingnya bahkan hampir 170 an kasus.

"Penurunannya cukup banyak di bulan Agustus. Kelurahan yang lulus stunting ini penurunannya hampir 170 an kasus," jelasnya.

Ia menjelaskan untuk kasus stunting tertinggi sesuai presentase prevelansi berada di daerah Semarang Selatan dan Semarang Tengah. Namun jika secara akumulasi, angka stunting terbanyak berada di Semarang Utara.

"Harapannya tren ini bisa terus menurun dengan beberapa skema intervensi yang dilakukan yakni pemberian pemberian makanan tambahan (PMT) dengan 2 jenis protein kepada balita stunting," tuturnya.

Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu mengaku jika secara angka memang kasus stunting mengalami penurunan. Namun diakuinya, Pemkot masih memiliki pekerjaan rumah (PR) yang harus dituntaskan termasuk transparansi data stunting di Semarang.

"Penanganan stunting itu harus dari hulu ke hilir dan tidak hanya anak stunting tapi juga remaja putri, calon pengantin dan ibu hamil. Harapannya 2024 sudah zero stunting," ungkap Ita, sapaan akrabnya.