Bahaya Predator Seks di Lingkungan Terdekat, Quo Vadis RUU TPKS

Kota Semarang digegerkan kasus kekerasan seksual ayah terhadap anak kandungnya sendiri. NPK, putri kecil yang baru berusia 8 tahun harus meregang nyawa setelah dirudapaksa ayahnya sendiri, WD (41), warga Kelurahan Bangetayu Wetan, Kecamatan Genuk Kota Semarang.


Wakapolrestabes Semarang AKBP IGA Dwi Perbawa Nugraha mengatakan, pelaku memperkosa anaknya sebanyak tiga kali sejak Februari 2022 lalu.

"Saat pertama kali kejadian sekitar 3 minggu lalu, korban ada di kamar pelaku bersama kakaknya. Ketika sudah malam hari, pelaku mengantar pulang anak pelaku yang bernisial DI, sedangkan NPK ikut balik lagi ke kosan dan tidur bersama ayahnya (pelaku). Saat itulah pelaku melakukan perbuatan cabulnya," terang Dwi Perbawa, dalam keterangan tertulis, Senin (21/3).

Saat itu juga, kata Dwi , korban berteriak kesakitan. Pelaku kemudian menenangkan anaknya untuk tidur. Pelaku kemudian mengulangi perbuatannya. Saat itu pelaku menjemput korban di rumah mantan istrinya untuk tidur di kos pelaku. Saat di kos, pelaku mengulangi perbuatannya. Aksi bejat pelaku terakhir terjadi pada Jumat, 18 Maret 2022, sekitar pukul 21.00 WIB, pelaku memperkosa anaknya yang sudah terlelap tidur.

"Awalnya pelaku sedang nonton TV dan saat itu timbul hasrat untuk menyetubuhi anaknya. Pelaku melakukan pencabulan melalui dubur dan kelamin korban. Kemudian korban terlelap tidur. Pada hari itu, sekitar jam 23.00 WIB, korban mengigau dan kejang kejang," terang Dwi Perbawa.

Karena kejang kejang, tetangga sekitar membawa korban ke klinik untuk diperiksa. Namun pihak klinik menolak. Akhirnya pelaku membawa korban kembali ke rumah mantan istrinya. Mantan istri menyuruh pelaku agar korban dibawa ke Rumah sakit. NPK pun akhirnya dibawa ke sebuah rumah sakit dan masuk UGD. Namun, tak lama berselang korban meninggal dunia.

Sungguh keji dan biadab perbuatan WD,  yang tega merudapaksa darah dagingnya sendiri. Anak yang seharusnya disayang, justru diserang. Sungguh, tak terbayangkan, apa sejatinya yang ada di benak dan hati sang ayah sehingga tega menyakiti putri kecilnya itu. Bocah malang tak berdosa itu menjadi pelampiasan nafsu bejat sang ayah. Entah setan mana yang membisiki sang ayah, sehingga lupa diri dan begitu tega memakan anak sendiri.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) mencatat belasan ribu kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan sepanjang tahun 2021.  Menteri PPPA Bintang Puspayoga melansir data, sepanjang 2021, terdapat 10.247 kasus kekerasan terhadap perempuan di mana 15,2 persennya adalah kekerasan seksual.

Dalam kasus kekerasan terhadap anak, trennya lebih memprihatinkan, karena kasus kekerasan seksual mengambil porsi yang besar. Pada kasus kekerasan terhadap anak, 45,1 persen kasus dari 14.517 kasus kekerasan terhadap anak merupakan kasus kekerasan seksual. Jumlah itu setara dengan sekitar 6.547 kasus kekerasan seksual terhadap anak terjadi selama tahun 2021.

Bintang menegaskan bahwa kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak merupakan fenomena gunung es. Artinya, jumlah kasus yang sebetulnya terjadi bisa jadi lebih parah dibandingkan yang sudah diketahui saat ini. Dikatakan, permasalahan yang terjadi sebenarya lebih kompleks dan besar daripada permasalahan yang terlihat di permukaan.

Pelaku adalah Kerabat Dekat

Ketua Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait pernah mengungkapkan,  banyak pelaku dari kasus kekerasan seksual terhadap anak adalah orang terdekat. Kebanyakan, kata Arist, bahkan masih punya hubungan kerabat dengan korban. Sekitar 62 persen kekerasan ini terjadi di lingkungan keluarga dan sekolah.

Menurut riset Komnas PA, pelakunya bisa jadi orangtua, saudara laki-laki maupun perempuan, teman dekat, hingga guru. Hanya ketika lokasi kejadiannya di ruang publik, seperti tempat belanja dan bermain, pelakunya adalah teman sebaya dan orang asing. Hasil pemantauan dan evaluasi oleh Save The Children, sebuah organisasi nonpemerintah internasional yang berfokus pada hak-hak anak, dengan contoh kasus di Kupang, Nusa Tenggara Timur, kekerasan terhadap anak marak di lingkungan keluarga, angkanya sekitar 93 persen.

Save The Children mencatat, anak sebagai aset keluarga dan bangsa telah menjadi korban kekerasan fisik dan mental dalam lingkungan keluarga sendiri. Anak-anak di daerah ini rentan menjadi korban kekerasan justru di lingkungan keluarga dan sekolah.

Hasil riset dari University of Barcelona pada 2009 menegaskan perkara tersebut; bahwa pelaku terbanyak kekerasan adalah orang yang dekat dengan korban. Riset itu merilis bahwa 30 persen pelaku kejahatan seksual adalah keluarga korban. Biasanya kakak laki-laki, ayah, paman, dan sepupu. Orang dekat lain, sebanyak 60 persen, adalah teman anggota keluarga, pengasuh anak, atau tetangga; dan sisa yang lebih kecil, 10 persen, adalah orang asing. Riset ini menyebut 7,9 persen laki-laki dan 19,7 persen perempuan seluruh dunia pernah mengalami pelecehan seksual hingga usia 18 tahun.

Negara-negara di Asia, termasuk Indonesia, hanya lebih baik dari negara di Afrika untuk relasi kekerasan seksual tertinggi di dunia. Mengapa anak rentan jadi korban? Susianah Affandy dari Keluarga Kongres Wanita Indonesia menyimpulkan ada empat penyebab anak rentan terhadap kekerasan seksual, yakni anak sangat mudah terpengaruh oleh iming-iming pelaku terlebih bila dari punya hubungan keluarga atau dari lingkungan pendidikan. Lalu, anak tidak bisa mengekspresikan secara verbal atas apa yang sedang dialaminya. Selain itu, anak menggantungkan hidupnya kepada pelaku; dan terakhir, korban takut melaporkan kekerasan.

Dikatakan, kekerasan ini muncul dari relasi yang timpang, dalam pelbagai keadaan sosial maupun pendidikan, termasuk melibatkan interpretasi agama. Untuk mengatasinya, selain mengajak keterlibatan komunitas, perlu edukasi dini tentang pola pengasuhan dan kampanye pendidikan anak tanpa kekerasan. Kekerasan terhadap anak akan membawa dampak yang buruk bagi tumbuh kembang anak.

Menteri PPPA Bintang Puspayoga berkomitmen mengawal pembahasan Rancangan Undang-undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (RUU TPKS) yang saat ini bergulir di DPR hingga bisa disahkan dan memuat substansi yang dapat menjawab permasalahan saat ini.

Ia setuju dengan anggapan bahwa sistem hukum yang saat ini berlaku di Indonesia belum mampu secara sistematis dan menyeluruh untuk mencegah, melindungi, memulihkan, dan memberikan akses pemberdayaan bagi korban kekerasan seksual.

Kata menteri, jika dilihat ditinjau dari aspek filosofis, yuridis, dan sosiologis, RUU ini mendesak untuk segera disahkan. RUU ini sejalan dengan komitmen Indonesia meratifikasi atau mengundangkan CEDAW (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women).

RUU TPKS yang dulu bernama RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) juga sempat masuk prolegnas (program legislasi nasional) pada 2020 lalu, namun dikeluarkan oleh DPR. Kala itu, pemerintah dan DPR pun dikritik karena pembahasan RUU PKS dianggap kurang melibatkan partisipasi publik. Kini, RUU TPKS sudah disahkan sebagai RUU inisiatif DPR dan masuk dalam prolegnas.

Kita tentu saja, tidak berharap, kasus kekerasan seksual yang dialami NPK dan anak-anak malang lainnya terus terjadi di Tanah Air. Kasus kekerasan seksual yang dialami NPK telah menambah daftar panjang kasus kekerasan seksual terhadap anak di negeri ini. Korban terus berjatuhan, sementara para petinggi dan elite politik ini, seperti bermain-main dan tidak serius menuntaskan RUU TPKS yang tak kunjung disahkan menjadi UU.

Kita menuntut Pemerintah dan DPR segera mengesahkan RUU TPKS, karena negara berada dalam keadaan darurat kekerasan seksual. Bukan saja masa depan yang terhempas, tapi nyawa NPK dan anak-anak malang lainnya di negeri ini telah terenggut oleh nafsu bejat para predator seks. Jangan biarkan anak-anak kita jadi korban berikutnya dari para predator seks. Waspada dan lindungi anak-anak kita, agar tidak menjadi mangsa mereka. Hukuman berat dan efek jera, harus jadi senjata yang ampuh untuk memerangi para predator seks, agar tak mudah mengumbar syahwat dengan seenaknya!