Bejat, Ayah Tiri di Wonogiri Setubuhi Dua Anaknya Berkali-kali

Diperiksa : Pelaku tengah diperiksa tim penyidik. Foto : Tulus
Diperiksa : Pelaku tengah diperiksa tim penyidik. Foto : Tulus

Keluarga seharusnya bisa menjadi tempat perlindungan yang aman dan nyaman bagi seorang anak perempuan. Tapi, hal itu rupanya tidak berlaku bagi dua gadis asal Wonogiri ini.


Sebut saja namanya Bunga dan Kembang. Diusianya yang masih remaja, Bunga 14 tahun dan Kembang 17 tahun, kedua justru mendapat perlakuan tak senonoh dari ayah dan kakaknya. Aksi bejat ini terjadi dalam rentang April hingga Juni 2023. 

Kapolres Wonogiri AKBP Andi Muhammad Indra Waspada Amirullah mengatakan, aksi sang ayah dan kakaknya itu diketahui setelah sang ibu merasa curiga karena Bunga tak kunjung datang bulan.

"Jadi saat ditanya oleh ibunya, anaknya baru menceritakan kejadian tersebut bahwa telah disetubuhi oleh ayah tirinya sendiri. Korban tidak berani cerita dikarenakan setiap ayahnya melakukan aksi bejatnya selalu mengancam korban jadi korban merasa terancam," kata Kapolres, Rabu (29/11).

Marah dengan kelakuan suaminya sendiri, si ibu pun melapor ke kepolisian. Tapi aksi ini diketahui pelaku yang meminta untuk menyembunyikan permasalahan ini.

Namun, kemarahan si ibu kian mejadi setelah pada Selasa (28/11/), Bunga mengeluhkan sakit perut dan pulang ke rumah. "Sesampainya di rumah, korban mengeluh BAB dan ke kamar mandi namun malah melahirkan bayi. Mengetahui hal tersebut ibu korban memanggil Bidan dan membawa anaknya ke RSUD Wonogiri guna mendapat perawatan. Si ibu pun akhirnya benar-benar melapor ke Polisi," terangnya.

Tak mau kecolongan, usai mendapat laporan tersebut, Unit PPA Satreskrim Polres Wonogiri langsung bergerak cepat dan berhasil menangkap pelaku.

Dari keteranganya, pelaku mengakui kelakuan bejatnya tersebut. "Saat ini pelaku sudah di amankan di Polres Wonogiri guna menjalani pemeriksaan dan mempertanggungjawabkan perbuatannya," tandas Kapolres

Pelaku sendiri diancam Pasal 81 ayat 1 UU No 17 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan anak dan Pasal 64 ayat 1 KUHPidana ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.