Buntut Penganiayaan Prada MZR di Mako Zipur Ambarawa Hingga Tewas, Ayah Korban Tidak Terima

Tuntut Pelaku Dipecat dari Militer
Maafkan saDanyon Zipur 4/TK Ambarawa Mayor Czi Deka Ary Wijanarko saat memimpin Upacara Militer Pemakaman Korban Prada MZR di TPU Wedung Demak
Maafkan saDanyon Zipur 4/TK Ambarawa Mayor Czi Deka Ary Wijanarko saat memimpin Upacara Militer Pemakaman Korban Prada MZR di TPU Wedung Demak

Buntut penganiayaan Prada berinisial MZR di Mako Batalyon Zeni Tempur 4/ Yanpa Kawandia - Kodam IV/ Diponegoro di Ambarawa oleh seniornya, ayah korban tidak terima.


Ini terungkap ketika RMOL Jateng menyambangi rumah duka, Sabtu (2/12). Terlihat keluarga besar korban masih sangat syok dan terpukul atas peristiwa mengenaskan itu.

Sabagai informasi, almarhum Prada MZR dimakamkan TPU Wedung, Demak, pada Jumat (1/12) pukul 16.00 WIB. Atau, beberapa jam usai kejadian penganiayaan usai acara pengajian pada Kamis (30/11) malam.

Ayah korban RM (53) yang tinggal di Desa Wedung, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak, saat ini dalam kondisi sakit.

"Anak saya ini anak ke 2, dia kebanggaan kami. Belum lama jadi tentara (2023) sudah meninggal karena kekejaman senior," tegas RM.

"Saya mau tanya, sebenarnya jika anak saya melakukan pelanggaran hingga dihukum pelanggaran atau menyalahi aturan seperti apa hukumannya?" lanjut RM, melanjutkan pertanyaan besarnya.

Ia pun menyanyangkan, anaknya sampai dihukum hingga kehilangan nyawa secara sia-sia. Ia beranggapan, hukuman senior MZR melebihi batas.

"Kenapa tindakan hukumannya melebihi batas begitu. Saya tidak terima," tandasnya.

Ayah korban pun lantang meminta pelaku yang merupakan senior korban dihukum seberat-beratnya.

"Saya tahu bahwa dia (pelaku) akan diproses secara militer, saya harapkan hukuman setimpal. Berat setimpal. Maksimal adalah pemecatan!," ucap RM.

Terpisah, Dandim 0716/Demak, Letkol Kaveleri Maryoto saat dikonfirmasi, mengaku dalam perjalanan ke Korem 073 Makutarama, Salatiga.

"Saya sedang dalam perjalanan ke Korem 073/Malutarama, Salatiga," aku Letkol Maryoto.

Sebagai informasi, jenazah Prada MZR  tiba di rumah duka Jumat (2/12) Pukul 14.00 WIB. Proses pemakaman pukul 16.00 WIB.

Informasi didapatkan RMOL Jateng Jateng di internal Batalyon Zeni Tempur 4/ Yanpa Kawandia -  Kodam IV/ Diponegoro di Ambarawa, menyebutkan, kronologi dugaan penganiayaan terhadap korban Prada MZR hingga tewas di tangan seniornya terjadi setelah agenda Yasinan Remaja di satuan Salatiga.

Korban dipanggil seniornya, Pratu WSO selaku Provost karena Prada MZR dianggap melakukan kesalahan.

Kemudian, korban pun diberi hukuman dengan kondisi "tobat". Bahkan, Prada MZR mendapatkan cambukan hingga disiksa oleh seniornya dengan menggunakan kabel injection system yang digulung menjadi satu.

Pelaku juga menendang dengan cara tendangan melingkar sebanyak dua kali di bagian ulu hati korban. Diduga karena tendangan inilah yang menyebabkan korban meninggal dunia.

Korban Prada MZR langsung terkapar tak sadarkan diri. Beberapa senior korban sempat memberikan air putih dan pertolongan pertama. Korban kemudian dilarikan ke rumah sakit Ambarawa kabupaten Semarang.

Naas, kondisi korban yang cukup parah pukul 21.30 WIB Prada MZR meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit.

"Dalam kondisi parah, pukul 21.30 WIB korban dinyatakan meninggal ditengah perjalanan menuju RS Ambarawa," ujar seorang saksi minta dirahasiakan identitasnya.

Meski sempat diberi tindakan penyelamatan pertama oleh paras seniornya, korban meninggal.

Seperti diketahui, seorang prajurit berpangkat Prada berinisial MZR dari Batalyon Zeni Tempur 4/ Yanpa Kawandia -  Kodam IV/ Diponegoro berlokasi di Ambarawa, Kabupaten Semarang tewas dianiaya seniornya berinisial Pratu WSO selaku Provost. 

Pelaku kini telah diamankan ke Pomdam IV/Diponegoro berlokasi di Semarang, Jawa Tengah.