Dollar Naik, Pasar Moge Lesu

Di Weru, sebuah kota kecamatan di wilayah Sukoharjo bagian selatan ada sebuah showroom moge (motor gede) yang omzetnya lumayan. Sri Narendra Kalaseba, warga Desa Karangwuni, Weru, Sukoharjo, kolektor sekaligus pebisnis jual beli moge, mengaku bisa menjual 4-6 unit moge berbagai merek dalam sebulan.


"Kalau penjualan tiap bulan tetap berkisar 4-6 unit, hanya saja kena imbas kenaikan dolar jadi terpengaruh. Yang penting usaha ini bisa survive, meski keuntungan yang didapat menurun, per unit saya menaikkan harga sekitar 5-7,5 juta rupiah," terangnya.

Dikatakan Sri Narendra Kalaseba, sebelum dollar mengalami kenaikan, dirinya mampu menjual 5-6 unit moge perbulan dengan keuntungan maksimal. Namun sejak dolar merangkak naik, penjualannya merosot hingga 50% dengan keuntungan minimal.

Berawal dari hobi pada moge khususnya merek Harley Davidson, Sri Narendra Kalaseba, baru memulai bisnis moge tersebut sejak dua tahun terakhir. Awalnya ia adalah pebisnis batik alusan dari Pekalongan. Setelah menetap di Sukoharjo tak hanya batik dan keris yang menjadi kelangenan, ditambah moge.

Dilanjutkan Sri Narendra Kalaseba, adanya krisis ini pemerintah segera menurunkan nilai tukar rupiah agar para pelaku bisnis tidak ikut terdampak. Pasalnya jika terus menerus terjadi persoalan itu, dikhawatirkan banyak pebisnis yang mengalami gulung tikar.

"Kalau terus mengalami krisis ini, kemungkinan besar para pebisnis juga ikut imbasnya bahkan bisa gulung tikar," imbuhnya.

Selain Jawa Tengah yang menjadi sasaran penjualannya ia  juga menyasar kota lain seperti Yogyakarta, Bandung dan Jakarta. Sejumlah jenis moge HD yang biasa dipasarkan antara lain Electra Glide, Fatboy, spotsteer, Road King, Boober, Road Glide dan masih banyak lagi. Untum harga, ada yang model pabrikan maupun hasil rakitan, dngan harga terendah mulai Rp 60 juta.