Jokowi Sebut Bantuan Beras Aman Sampai Juni, Bulan Berikutnya Tunggu Perhitungan APBN

Presiden Jokowi saat menyerahkan bantuan beras di Gudang Bulog Telukam Sukoharjo.Almira Nindya/Dok.RMOLJateng
Presiden Jokowi saat menyerahkan bantuan beras di Gudang Bulog Telukam Sukoharjo.Almira Nindya/Dok.RMOLJateng

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan bantuan bras 10 kg aman pada semester pertama tahun 2024, atau sampai bulan Juni.


Sedangkan untuk semester kedua mulai Juli belum bisa menjanjikan, karena masih akan melihat perhitungan APBN.

"Jadi bulan Januari sampai Juni sudah dialokasikan. Setelah itu diitung lagi. Kalau APBN kita saya lihat ada kesempatan lagi, bisa, tapi saya tidak janji. Janjinya sampai Juni (2024). Mugi-mugi nanti ada ruang lagi," kata Jokowi saat memberikan bantuan pangan di Bulog Telukan, Kabupaten Sukoharjo., Kamis (1/2).

Jokowi mengklaim, bantuan pangan beras 10 kilogram ini hanya ada di Indonesia. Hal itu untuk menekan harga beras, dan membantu masyarakat. Bantuan pangan ini berkolaborasi dengan BLT El Nino.

Dia mengatakan, adanya cuaca El Nino ini mengganggu pasokan beras di dunia. Akibatnya, negara produsen beras menghentikan ekspor beras mereka, untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Suplai beras yang berkurang, membuat harga beras naik.

"Harga beras yang ada memang tidak normal, itu terjadi di semua negara. Tapi negara lain tidak ada bantuan beras, gak ada. Hanya di Indonesia," ucapnya.

Ikut dalam rombongan Pj Gubernur Jawa Tengah Nana Sudjana, Direktur Utama Perum Bulog Bayu Krisnamurthi, dan Bupati Sukoharjo Etik Suryani.

Dirut Perum Bulog Bayu Krisnamurthi mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan program pangan hingga bulan Juni mendatang. Stok beras yang dimiliki Bulog masih cukup.

"Kita sudah membuat perhitungan ketersedian stok, dalam jumlah yang cukup untuk bisa melaksanakan program bantuan pangan sampai bulan Juni. Sekaligus kita menjaga stok di Bulog," kata Bayu.

Terkait harga beras yang tinggi, dia mengatakan hal itu karena belum musim panen. Hal itu membuat stok beras masih sedikit. 

Untuk menekan kenaikan harga beras, pihaknya akan mengotimalkan dan mengebut penyaluran bantuan pangan, dan program Stabilitas Pasokan Harga Pangan (SPHP). 

Bulog telah menghitung penyaluran program tersebut ketika masa tenang Pemilu 2024, karena tidak ada aktivitas penyaluran bantuan.

"Saat ini jumlah totalnya 880 ribu ton yang ada di gudang. Dan ada kira-kira 400 ribu ton yang sedang dalam perjalanan, atau antar pulau. Jadi total kira-kira 1,25 juta ton stok yang ada di Bulog. Jadi jumlahnya cukup untuk memenuhi bantuan pangan dan SPHP," pungkasnya.