‘’Kalau Tak Ada Dana Jaminan Kematian Itu, Saya Harus Bayar Utang Pakai Apa?’’

Mereka yang Merasakan Manfaat Jadi Peserta BPJS Ketenagakerjaan
Ria Susanti (35), peserta BPJS Ketenagakerjaan yang telah menerima manfaat dari pencairan klaim Jaminan Kematian sang suami. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,  dia berjualan aksesoris strap masker untuk hijab. foto: dok pribadi.
Ria Susanti (35), peserta BPJS Ketenagakerjaan yang telah menerima manfaat dari pencairan klaim Jaminan Kematian sang suami. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, dia berjualan aksesoris strap masker untuk hijab. foto: dok pribadi.

Kalimat itu meluncur dari Paryanti (52), warga Pudakpayung, Kota Semarang. Perempuan asli Semarang itu, sejak Juni 2021 lalu, menjadi tulang punggung keluarga, setelah sang suami tercinta meninggal dunia.


‘’Kalau tidak dapat  dana Jaminan Kematian dari BPJS Ketenagakerjaan, saya tak tahu harus bayar utang pakai apa. Sejak suami saya sakit dan harus dirawat di rumah sakit, saya terpaksa utang sana-sini untuk biaya perawatan,’’ ungkap ibu empat anak ini, kepada RMOL Jateng, Senin (29/11/2021).

Paryanti mengaku,  dia belum genap setahun menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan. Dia baru ikut menjadi peserta BPU atau Bukan Penerima Upah pada pertengahan 2020 lalu. Dia ikut menjadi peserta, karena usaha Berkah Snack, miliknya tercatat menjadi anggota Komunitas UMKM Djajan Kampoeng Pudakpayung.

Bersama sang suami yang menjadi seorang driver, dia menjadi anggota dengan iuran Rp48 ribu per bulan.  Setelah 10 hari menjalani perawatan, pada Juni 2021, kabar duka itu datang. Sang suami dipanggil Sang Pencipta.

‘’Saya betul-betul panik. Bingung, karena kehilangan orang tercinta secara mendadak. Saya juga kehilangan figur penopang utama ekonomi rumah tangga. Walaupun saya punya usaha pembuatan snack, tapi hasilnya tak seberapa, hanya membantu menambah penghasilan suami,’’ paparnya.

Untuk mencari tambahan biaya rumah sakit, dia mengaku harus mencari pinjaman dari saudara dan teman. ‘’Kalau sakit, biaya pasti ada saja. Tabungan pasti terkuras, saya praktis tak pegang uang, sehingga terpaksa cari utangan,’’ imbuhnya.

Paryanti mengaku beruntung, dana Jaminan Kematian dari BPJS Ketenagakerjaan cair sebesar Rp42 juta.

‘’Alhamdulilah,  uangnya bisa untuk membayar utang, dan sisa sedikit untuk biaya anak bungsu yang masih duduk di SMK kelas 1,’’ ujar wanita yang biasa dipanggil Yanti ini.

Kalau  tak ada dana Jaminan Kematian dari BPJS Ketenagakerjaan itu,  dia mengaku tak tahu mau kemana dia mencari uang untuk membayar  seluruh pinjaman tersebut.   

‘’Saya lega, plong akhirnya setelah dana cair. Utang saya lunas. Kalau dari hasil usaha snack, hasilnya tak seberapa, hanya Rp1-1,5 juta per bulan,’’ ujarnya.

Beasiswa

Ria Ristanti (35), juga merasakan manfaat dari kepesertaaan BPJS Ketenagakerjaan. Perempuan warga Sambiroto, Kedungmundu, Kota Semarang ini, kini menjadi orang tua tunggal bagi ketiga anaknya yang masih kecil. Suaminya tercinta meninggal dunia pada 2020 lalu.

‘’Saya bersyukur, bukan saja dana Jaminan Kematian cair, saya juga dapat beasiswa pendidikan untuk dua anak saya,’’ ungkap Ria.

Selain Jaminan Kematian Rp42 juta, Ria mengatakan, dua anaknya yang berumur 10 tahun dan 9 tahun yang duduk di kelas 4 dan 3 SD dapat beasiswa hingga usia 23 tahun.

‘’Setiap anak dapat beasiswa Rp1,4 juta per tahun,’’ ujarnya. Beasiswa itu menjadi hak kedua anaknya, kecuali jika dirinya menikah lagi.

‘’Saya jadi peserta BPJS Ketenagakerjaan pada 2013 sampai resign dari pekerjaan pada 2019. Proses klaim JHT terbilang cepat, tak sampai 4 hari cair. Untuk dana Jaminan Kematian pun terbilang cepat. Tak sampai sebulan sudah cair. Sempat terhambat sebentar, karena KTP saya hilang. Saat KTP baru jadi, klaim langsung cair,’’ ujarnya.

Untuk membiayai kebutuhan sehari-hari, sejak awal 2021, Ria berjualan strap masker hijab dan asesoris hijab lainnya. Dia memasarkan produknya secara daring melalui WA Grup hingga melayani permintaan luar kota.

‘’Rata-rata 70 pieces produksi per bulan. Paling banyak 100 pieces. Melayani permintaan teman-teman sampai ke luar kota. Bandung, Cilacap, Jakarta,’’ ujarnya. Dia juga menjajakan produk kerajinan tangan itu di depan Kantor Pos Johar, saat hari Minggu.

Agustin Handayani (45),  pun senasib dengan Paryanti dan Ria Susanti. Ditinggal sang suami untuk selama-lamanya.  Yani, panggilan akrabnya mengaku, baru tiga bulan menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan, sang suami secara mendadak menghadap Sang Pencipta.

Dia dan sang suami menjadi peserta  pada Maret 2021, dengan iuran Rp17 ribu. Pada Juli 2021, suami meninggal dunia.  ‘’Bulan september 2021 lalu, dana Jaminan Kematian alhamdulilah cair Rp42 juta,’’ ungkap Yani, yang sehari-hari berjualan aneka ikan asin di Blok C5 relokasi eks Pasar Johar di MAJT Kota Semarang.

Bersama 9 anggota komunitas pedagang di Blok C5 relokasi eks Pasar Johar di MAJT, dia mendaftar menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan pada Maret 2021.

''Dana Jaminan Kematian dari BPJS Ketenagakerjaan itu sangat membantu sekali bagi kami para pedagang kecil. Saya beruntung dulu langsung memutuskan ikut daftar, karena untuk berjaga-jaga dari musibah yang sewaktu-waktu datang. Nyatanya terbukti,’’ papar Yani.  

Dia berdagang ikan asin sejak 2013, meneruskan usaha ibunya. Bersama para peserta lainnya di relokasi eks Pasar Johar, Yani juga menerima BSU (Bantuan Subsidi Upah) sebesar Rp1 juta sebagai pedagang terdampak PPKM.

Rina Rosiana (52), pengurus Gerai KOPIMI (Gerakan Masyarakat Terintegrasi Koperasi dan Usaha Mikro) di Kelurahan Pudakpayung, Kecamatan Banyumanik,  Kota Semarang mengatakan, sebanyak 5 orang anggota Gerai KOPIMI di wilayahnya sudah menikmati manfaat menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan, melalui pembayaran klaim Jaminan Kematian.

Anggota Gerai KOPIMI (Gerakan Masyarakat Terintegrasi Koperasi dan Usaha Mikro) Kelurahan Pudakpayung, saat pameran. Sebagian besar anggotanya telah menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan. foto: dok. Gerai KOPIMI Kelurahan Pudakpayung.

‘’Anggota kami 250 orang pedagang. Yang sudah ikut jadi peserta sebanyak 175 orang, dengan iuran Rp36.800 per bulan. Dari jumlah itu, 100 orang langsung membayar iuran melalui saya yang juga PPOB (payment point online banking),’’ ujar Rina, yang berdagang kebab dan burger sejak 2016 ini.

Peserta Penyandang Disabilitas

Menik Murwani (42), Koordinator Rumah Difabel di jalan MT Haryono 266 Semarang mengaku,  para penyandang disabilitas yang bergabung dalam komunitas tersebut juga menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan.

‘’Kami baru menjadi peserta pada tahun ini. Untuk jaga-jaga, karena musibah bisa datang kapan saja. Agar terjamin, kami mendaftar menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan,’’ ujar Menik.

Berdiri sebagai komunitas sejak 7 tahun lalu,  Rumah Difabel yang resmi berdiri pada 5 tahun lalu,  kata Menik, menampung 100 lebih penyandang disabilitas dari Demak dan Semarang.  

Kegiatan para penyandang disabilitas di Rumah Difabel Semarang. Sebagian dari mereka menjadi peserta Bukan Penerima Upah (BPU) BPJS Ketenagakerjaan. foto: dok. Rumah Difabel. 

‘’Namun baru 10 orang yang ikut jadi peserta, karena rata-rata berlatarbelakang ekonomi lemah, tak semua bisa ikut.  Iuran kami Rp36.800 per bulan,’’ ujar Menik.

Para penyandang disabilitas di Rumah Difabel, kata Menik, melakukan berbagai aktivitas, yang terbilang produktif. Mereka belajar bahasa Inggris dan etika. Belajar carlistung dan penulisan kreatif,  public speaking,  hingga senam dan mengaji. Setiap hari Sabtu,  mereka membuat aneka kerajinan tangan seperti sulam, batik dan kerajinan tangan. Hasil kerajinan tangan itu dijual online dan pameran.

Kepala Kantor BPJS Ketenagakerjaan Semarang Majapahit Imron Fatoni kepada RMOL Jateng menjelaskan, jumlah peserta Cabang Semarang tercatat 190.650 orang, perinciannya 147.682 Tenaga Kerja PU (Penerima Upah) dan 42.968 Tenaga Kerja BPU (Bukan Penerima Upah), dari 5.054 Badan Usaha.

Imron Fatoni menyebutkan, hingga Oktober 2021, BPJS Ketenagakerjaan/BPJamsostek Kantor Cabang Semarang Majapahit telah menunaikan pembayaran klaim Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JKM),  dan Jaminan Pensiun (JP).  

Perinciannya, jumlah klaim JHT 23.981 klaim sebesar Rp250,58 Miliar. JKK 3.014 klaim Rp10,52 Miliar.  JKM  1.110 klaim Rp28,69 Miliar.  Sedangkan untuk JP 5.907 klaim senilai Rp6,45 Miliar. Untuk Calon penerima BSU 132.854 orang, sebesar Rp1 juta per orang.

Untuk wilayah Jateng-DIY, Deputi Direktur Wilayah BPJS Ketenagakerjaan Jateng dan DIY Cahyaning Indriasari mengatakan, untuk pembayaran klaim jaminan periode 1 Januari 2021 – 31 Oktober 2021,  tercatat  JHT sebanyak 244.064 kasus sebesar Rp2.492.110.978.040. JKM 7.756 kasus Rp346.116.600.000. JKK 1.138 kasus Rp108.021.509.017, dan JP 10.386 kasus Rp62.213.853.917.

‘’Totalnya 263.344 kasus dengan jumlah yang dibayarkan sebesar Rp3.008.462.940.974,’’ ujar Cahyaning.

Penambahan Manfaat

Manfaat yang dirasakan Paryanti, Ria Susanti dan Agustin Handayani sebagai peserta, merupakan buah dari adanya peningkatan manfaat JKK dan JKM yang dilakukan BPJS Ketenagakerjaan pada 2019 silam. BPJS Ketenagakerjaan, yang juga biasa disebut BPJamsotek, meningkatkan manfaat Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM) bagi seluruh pekerja Indonesia.

Penambahan manfaat tersebut tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2019 tentang perubahan atas PP 44 Tahun 2015, tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian. Penambahan manfaat kedua program tersebut dapat dinikmati tanpa harus membayar iuran lebih.

Cahyaning mengatakan, dalam perluasan manfaat JKK, pekerja yang mengalami kecelakaan kerja akan ditanggung biaya perawatan dan pengobatannya sampai sembuh berapapun biayanya sesuai dengan kebutuhan medis. Penambahan manfaat JKK pada perubahan PP 44 Tahun 2015, salah satunya perawatan di rumah alias homecare.

Dalam perawatan pengobatan di JKK ada dua perluasan manfaat yakni homecare dan pemeriksaan diagnostik.  Biaya homecare mencapai maksimal Rp20 juta. Perawatan di rumah atau homecare diberikan kepada peserta yang tidak memungkinkan melanjutkan pengobatan ke rumah sakit. Pemeriksaan diagnostik untuk pemeriksaan dalam rangka penyelesaian kasus penyakit akibat kerja, guna memastikan pengobatan dilakukan hingga tuntas.

Manfaat JKK juga ditingkatkan dalam biaya transportasi untuk mengangkut pasien yang mengalami kecelakaan. Biaya transportasi dinaikkan dari Rp1 juta menjadi maksimal Rp5 juta. Biaya transportasi angkutan laut naik dari Rp1,5 juta menjadi Rp2 juta. Kemudian, angkutan udara dinaikkan menjadi Rp10 juta dari sebelumnya Rp2,5 juta.

Penambahan manfaat Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) yakni santunan sementara tidak mampu bekerja yang berupa penggantian upah sebesar 100 persen menjadi 12 bulan dari sebelumnya 6 bulan dan penggantian upah untuk seterusnya sebesar 50 persen hingga sembuh.

Sementara kematian akibat kecelakaan kerja, biaya pemakaman naik dari Rp3 juta, menjadi Rp10 juta. Selain itu, santunan berkala meninggal dunia dari Rp6 juta menjadi Rp12 juta untuk 24 bulan.

Perubahan bukan hanya untuk kecelakaan kerja, tetapi juga program JKM. Santunan kematian naik dari Rp16,2 juta menjadi Rp20 juta. Kedua, santunan berkala meninggal dunia dari Rp 6 juta untuk 24 bulan, menjadi Rp12 juta.

Ketiga, biaya pemakaman naik dari Rp3 juta, menjadi Rp10 juta. Sehingga total santunan JKM menjadi Rp42 juta dari sebelumnya Rp24 juta. Sementara untuk beasiswa juga mengalami perubahan dengan poin-poin yang sama dengan manfaat JKK.

‘’Awalnya saya cuek, menjadi peserta lebih karena dibayarin kantor. Saat, saya resign dan full mengurus rumah tangga,  ternyata enam tahun kerja, saya dapat dana JHT yang lumayan. Saat harus kehilangan suami tercinta, lagi-lagi ada dana Jaminan Kematian dan beasiswa bagi anak-anak saya. Bagi saya, ini anugerah yang sangat layak saya syukuri,’’ pungkas Ria Susanti, sambil melempar senyum.