Nasib Jokowi Bisa Serupa Tengku Erry Yang Ditinggal Partai Pendukung

Janji yang belum ditepati dan ulah relawan yang kerap membuat masalah menjadi ganjalan bagi Presiden Joko Widodo melaju di Pilpres 2019. Selain itu, ada juga konflik antar partai pendukung.


Begitu terang Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah dalam akun Twitter @fahrihamzah, Senin (7/5).

Untuk alasan konflik antar partai pendukung, Fahri menjabarkan bahwa Jokowi kini memang di atas kertas menjadi calon yang paling banyak diusung partai. Ada 7 parpol yang masuk kabinet dan ada juga partai relawan.

Namun demikian, dia mengatakan bahwa partai pendukung ini hanya ingin memanfaatkan incumbent sebagai merek dagang.

Parpol pendukung Jokowi ini sekarang sadar bahwa jika mau punya nama maka jual lah yang punya nama. Sehingga apabila nama itu didekatkan maka parpol akan mendapatkan efek popularitas," ujarnya seperti dikutip Kantor Berita Politik RMOL

Lambat laun, para partai itu akan berebut menjadi partai yang paling mewakili presiden. Ini yang kemudian menjadi awal konflik yang semakin tajam. Konflik ini bisa memiliki efek negatif bagi presiden sehingga ditinggal dan lari ke lain hati.

Konflik ini sekarang ada di belakang layar dan sesekali muncul tanpa terasa. Terutama di antara partai besar.

Sementara itu ada juga tiga partai yang paling agresif memanfaatkan presiden.

Ketiga partai itu adalah partai kuning, partai biru, dan merah baru....ada apa dengan partai merah?" tukasnya.

Dukungan partai yang besar, sambungnya, bisa membuat Jokowi menjadi banyak dukungan di pilpres, bisa juga sebaliknya. Jokowi bisa ditinggalkan di penghujung pendaftaran seperti nasib Gubernur Sumatera Utara Tengku Erry.

Demikiankah faktanya. Apakah itu akan membuat presiden makin banyak pendukung atau malah todak dapat? Saya mau ambil contoh, Tengku Erry incumbent di Sumatera utara. Awalnya dia paling banyak ke dukung tapi akhirnya gagal tidak dapat tiket," tutup Fahri.