Pengamat: 100 Petugas Gugur Jalankan Tugas, Pemilu Serentak Perlu Evaluasi Sistem Pelaksanaan

Prosesi Pemakaman Seorang Anggota Polrestabes Semarang Yang Jatuh Sakit Dan Meninggal Dunia Diduga Kelelahan Saat Mengamankan Pemilu 2024. Foto: Dicky A Wijaya/RMOLJateng
Prosesi Pemakaman Seorang Anggota Polrestabes Semarang Yang Jatuh Sakit Dan Meninggal Dunia Diduga Kelelahan Saat Mengamankan Pemilu 2024. Foto: Dicky A Wijaya/RMOLJateng

Kasus kematian petugas penyelenggara dan pengawas Pemilu di berbagai daerah jumlahnya telah mencapai seratusan orang. Mereka meninggal ketika bertugas karena sakit dan kelelahan. 

Ketika bertugas, petugas penyelenggara KPPS serta pengawas mesti menjalankan tugas teknis di TPS hingga tahap akhir proses penghitungan suara. Semua prosesnya panjang serta menguras tenaga bahkan baru selesai pagi hari berikutnya. 

Hal menjadi sorotan kalangan pengamat. Pengamat Politik Universitas Diponegoro, Teguh Yuwono, menilai beban kerja petugas lapangan yang terlibat di dalam tahapan Pemilu 2024 terlalu berat untuk fisik, tenaga dan pikiran. 

Kasus kematian petugas Pemilu jelas menggambarkan kerasnya tuntutan kerja, beban tanggung jawabnya sehingga terkesan tidak manusiawi, maka perlu adanya evaluasi. 

"Tingginya kematian petugas Pemilu menjadi catatan kelam penyelenggaraan pesta demokrasi, berarti tuntutan profesionalitas begitu tinggi. Nah, ini perlu dievaluasi karena seharusnya seluruh proses pelaksanaan terencana dan tidak jadi beban kerja berlebihan. Pemerintah dapat mengubah sistem Pemilu, entah dengan alur dan jadwalnya sedikit diperpanjang, atau mengandalkan digitalisasi teknologi agar efektif untuk mengurangi kebutuhan sumber daya manusia (SDM) penyelenggara," papar Teguh, Kamis (22/02). 

Bekerja non-stop saat menyelenggarakan Pemilu Serentak, Teguh menilai, bukanlah pekerjaan ringan. Satu kelemahannya lagi dalam tahap persiapan, petugas yang akan bertugas tidak mendapatkan pemeriksaan kesehatan menyeluruh mengenai kondisi kesehatan, maka tidak diketahui seandainya ada petugas memiliki riwayat penyakit tertentu. 

"Medical check up sangat penting tetapi tidak dipersiapkan pemerintah. Terkesan seadanya tanpa persiapan matang. Padahal terpenting SDM sebelum tugas harus benar-benar sehat. Pemilu Serentak sangat panjang sekali prosesnya, (sehingga-red) melelahkan, butuh kesiapan fisik ekstra agar petugas-petugas selalu fit dalam melaksanakan tugas. Karena tidak diperhatikan, akhirnya banyak petugas ngedrop sakit dalam tugas, sehingga ini perlu dilakukan evaluasi persiapan teknis penyelenggaraannya," tutur dia. 

Konsep dasar penyelenggaraan Pemilu seharusnya, Teguh berharap, diperbaiki semuanya baik pada alur dan proses, tetapi apabila pemerintah tetap mempertahankan sistem lama, sebaiknya dilakukan seleksi ketat terhadap para petugas termasuk memberikan batasan usia maksimal agar tidak ada petugas berusia lanjut. 

"Tergantung pemerintah seperti apa mengelola Pemilu ke depan, jika diubah keseluruhan prosesnya harus dibuat seefektif mungkin tetapi tidak sedikit pun merubah konsep sebuah pesta demokrasi," demikian katanya.

Ia berpendapat jika konsepnya tetap, alangkah baiknya bila komposisi petugas proses seleksinya diperketat, terutama dalam hal usia sehingga selain produktif juga demi mengurangi risiko pekerjaan.

Sebab,"Hal ini yang dirasa menimbulkan banyaknya korban, karena petugas tidak siap. Mereka bekerja melebihi batas kemampuan dirinya, memaksakan diri agar mampu totalitas. Itu yang tidak diharapkan," tegas Teguh. 

Opsi lainnya adalah dengan mengubah format penyelenggaraan beralih dengan memanfaatkan teknologi digital. Dalam lima tahun mendatang, penyelenggara, yaitu KPU dan Bawaslu, semestinya harusnya sudah mampu mempersiapkan teknisnya.

"Setidak-tidaknya bertahap dalam proses rekapitulasi penghitungan prosesnya dibantu teknologi digital untuk meringankan beban petugas. Atau mungkin keseluruhan, ada ide menciptakan Pemilu online tanpa perlu ke TPS. Saya kira sebenarnya gagasan-gagasan semacam itu bisa diwujudkan hal-hal kecil tetapi bermanfaat besar bagi seluruh elemen bangsa," tandas dia.