Prabowo Harus Terima Konsekuensi Logis Dari Demokrat

Hubungan antara Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sejak di akademi militer sudah sangat baik.


Kata Wasekjen DPP Demokrat Andi Arief, meski bersaing keduanya tidak pernah saling menyakiti.  

"Setelah SBY mengajak Prabowo pulang dari Jordan sampai hari ini, hubungan juga tetap mesra. Soal sikap politik pasti belum tentu sama, kadang-kadang bisa sama," ujarnya di akun Twitter @andiarief_, Senin (30/4).

Sementara untuk hubungan politik antara Gerindra dan Demokrat, Andi menyebut bahwa Demokrat pada dasarnya mengajak partai lain untuk menjunjung tinggi etika.

Etika yang dimaksud adalah partai lain yang ingin mengajak Demokrat berkoalisi harus menghormati hasil capaian pemilu di 2014 dan elektabilitas calon untuk koalisi Pilpres 2019.

"Partai kami urutan empat. Kami bisa aktif mengajak koalisi urutan 5 dst. Tapi kami pasif terhadap urutan 1 sampai 3," tukasnya dikutip Kantor Berita Politik

Andi meminta Prabowo Subianto memahami etika berkoalisi ini. Dengan kata lain, Prabowo harus menerima konsekuensi logis jika ingin mengajak Demokrat berkoalisi.

"Pileg 2014 Demokrat sedikit di bawah Gerindra, dan AHY punya elektabilitas di atas figur yang dimiliki PKS dan PAN," tukasnya.