Ratusan warga Tegalrejo Grobogan, Bergantung pada Pemanfaatan Embung Mini

Embung mini Tegalrejo dimanfaatkan warga untuk mengaliri area perkebunan warga
Embung mini Tegalrejo dimanfaatkan warga untuk mengaliri area perkebunan warga

Embung mini Tegalrejo merupakan salah satu embung di Kabupaten Grobogan yang saat ini masih digunakan oleh masyarakat setempat untuk memenuhi kebutuhan perkebunan buah milik masyarakat. Keberadaanya mampu mencukupi lebih dari 400 kepala keluarga.


Embung tersebut merupakan salah satu hasil program pencanangan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo pada tahun 2015 silam. Hingga saat ini, bangunan embung tersebut masih tampak kokoh dengan airnya yang cukup jernih.

Lokasi embung mini Tegalrejo cukup jauh dari area perkotaaan, keberadaanya terletak di ujung utara Kecamatan Wirosari. Berjarak sekitar 39 kilometer dari Kota Purwodadi.

Embung seluas satu hektar tersebut dibangun Gubernur Ganjar Pranowo pada tahun 2016 melalui Corporate Social Responsibility (CSR) PT Pertamina di lahan bengkok milik Desa Tegalrejo. Embung tersebut memiliki daya tampung hingga 15.749 M³. Diperkirakan embung mampu mencukupi kebutuhan perkebunan warga hingga 70 hektar.

Tak dibiarkan begitu saja, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga melakukan pendampingan kepada masyarakat untuk  pemanfaatan embung mini agar bisa maksimal.

Kepala Desa Tegalrejo Suhardi mengatakan, air di embung hanya digunakan untuk mengaliri perkebunan buah jenis Alpukat dan Durian di sana. Awalnya hanya digunakan sekitar 20 hektar saja. Namun, sering waktu berjalan banyak petani tertarik dengan hasil penanaman buah tersebut hingga banyak petani lokal beralih berkebun buah.

"Alhamdulillah, sudah dua tahun ini masyarakat berhasil memaneh buah. Untuk kualitas buahnya tak kalah dari yang lain," ungkapnya, Sabtu (7/10).

Hingga saat ini, ada sekitar 50 hektar lahan terpisah yang memanfaatkan embung sedalam empat meter tersebut. Meski saat ini dilanda Elnino, air di embung mini Tegalrejo tetap jernih. Air embung masih memiliki kedalaman hingga 3 meter.

Menurut mandor embung, Rohman (60), dirinya mengatur pemakaian air embung sesuai dengan kebutuhan saja, sehingga air embung tidak cepat habis, dan tepat sasaran. Posisi embung dibangun di dataran tertinggi di lokasi, hal itu guna mempermudah masyarakat untuk mengalirkan air serta efisiensi.

"Keberadaan embung ini benar-benar membantu masyarakat sekitar. Warga yang dulunya mengandalakan pertanian palawija sekarang mulai nyaman dengan kebun buah mereka, karena hanya sekali tanam masyarakat bisa memanen tiap tahunnya," ujar anggota kelompok tani Ngudi Makmur tersebut.

Bahkan, lanjut dia, untuk jenis buah Alpukat mampu berbuah hingga tiga kali dalam satu tahunnya. Dia mengaku untuk penggunaan air embung dirinya selalu berkonsultasi dengan Yayasan Obor Tani yang sebelumnya melakukan pendampingan ke para petani kebun di Desa Tegalrejo.

Dia mengatakan, penyerahan pengelolaan embung dari Yayasan Obor Tani kepada Kelompok Tani Ngudi Makmur Tegalrejo baru diserahkan 2021 lalu, karena dinilai warga Tegalrejo sudah mampu mengelola embung dengan baik.

Disinggung hasil panen buah miliknya, Rohman mengaku, hasilnya cukup bagus meski belum optimal, lantaran baru berbuah dua tahun belakangan ini. Untuk buah lebat diperkirakan tumbuh di tahun ketiga setelah pembuahan.

"Mungkin tahun ini bisa maksimal. Karena kelihatan dari banyaknya bakal buah, " ucapnya sembari menunjuk bakal buah Alpukat miliknya.

Terpisah, Manager Coordinator Wilayah I Yayasan Obor Tani, Hotjen Siallagan mengatakan, setelah masa pembangunan embung mini Tegalrejo berakhir, pihaknya melakukan pendampingan di Desa Tegalrejo Kecamatan Wirosari Kabupaten Grobogan sekitar 3,5 tahun.

Hal itu, guna memastikan pemanfaatan embung mini di Tegalrejo bisa maksimal. Pendampingan juga bertujuan meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar. Terkait anggaran, pihaknya mengaku dianggarkan dari provinsi dan dibantu oleh bupati setempat.

"Meski embung mini sudah kita serahkan kepada masyarakat, kita masih lakukan pendampingan hingga saat ini. Sesekali tetap kita monitoring di lokasi. Untuk permasalahan kecil, warga sudah bisa mengatasi, sementara untuk permasalahan besar kita turun tangan," ucapnya.