Raup Dolar, Berkah di Tengah Corona

Pekerja dari Slam Furniture Klaten sedang menyiapkan produk yang akan diekspor luar negeri. Dok Slam Furniture
Pekerja dari Slam Furniture Klaten sedang menyiapkan produk yang akan diekspor luar negeri. Dok Slam Furniture

Di tengah prahara roda perekonomian dihantam corona, pasar mancanegara justru memberi asa. Produk lokal mulai dilirik mancanegara ini mampu memperpanjang napas perajin UMKM.


Pemilik Slam Furniture, Slamet Setyiyono justru merasakan berkah saat pandemi Covid-19 melanda. "Kami sedang packing (produk) ke Amerika Serikat," ungkapnya saat ditemui RMOL Jateng, belum lama ini. 

Produk furniture dari Slam Furniture kombinasi kayu jati, kulit dan rotan mulai dibanjiri pesanan dari luar negeri. Di sisi lain, pesanan inipun 'terpaksa' ditunda dikirim, bukan karena produsen tidak mampu memenuhi permintaan. Namun, biaya pengiriman kargo dari pelabuhan ke negara tujuan melonjak gila-gilaan membuat pembeli ciut nyali. 

"Sebelumnya (biaya pengiriman kargo) 3.000 dolar AS selama Covid naik jadi 15.000-17.000 dolar AS. Harga ini membebani buyer sehingga memilih untuk mem-pending (menunda) pesanan," kata pengusaha furniture asal Juwiring, Klaten.

Dok Slam Furniture Specialist Wooden and LeatherDok Slam Furniture Specialist Wooden and Leather

Seperti efek domino, lonjakan harga mempengaruhi keberlangsungan UMKM sejenis. Penundaan ini turut mempengaruhi keputusan pemilik usaha seperti mengurangi karyawan atau tutup demi memangkas biaya operasional. 

Meski kondisi serba sulit, dia memaklumi alasan pembeli karena akan mengurangi kalkulasi keuntungan. Semakin tinggi biaya pengiriman berdampak margin keuntungan mengingat peningkatan sekitar 4-5 kali biaya sebelumnya. 

Slamet tergolong beruntung dalam menghadapi badai ini. Sejalan datang tawaran dari negara lain, yakni Amerika Serikat membuat usahanya bertahan. Di negara Paman Sam, biaya pengiriman kontainer lebih terjangkau sehingga pesanan tetap lancar. "Perputaran pembeli termasuk uang jadi kami tetap bisa berproduksi. Dari pengeluaran yang ada kami masih bisa survive," katanya. 

Produk-produk berbahan kayu ini memang membidik pasar mancanegara meski tidak mengabaikan pasar domestik. Adapun variasi produk yang dijual adalah kursi untuk kebutuhan ruang tamu, makan hingga taman. Produk dekorasi rumah menyasar hotel, resto dan lainnya. 

Membuka usaha tahun 2019 dan mengikuti pameran di Yogyakarta. Dalam pameran perdana, produknya membuat tertarik pembeli dari Eropa kemudian berlanjut dengan permintaan pembeli dari negara lainnya. Sukses mengirim ke Eropa menghantarkan Slam Furniture ke negara-negara lain, diantaranya Perancis, Jerman, Spanyol, Afrika Selatan hingga Amerika. 

"Secara umum penjualan memang menurun tapi pasar ekspor meningkat hingga 30%," terangnya. 

Hingga tawaran dari Dinas UMKM Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menghampiri. "Kami mengirimkan sampel untuk dikurasi dan lolos sehingga turut serta dalam pameran ke Belgia bersama perajin lainnya di Jawa Tengah," terangnya. 

Dalam pameran ke Belgia, Slam Furniture mengirimkan 12 buah produk furniture kayu. Pelepasan perdana ekspor UKM Jawa Tengah dalam program ini, diikuti oleh lima UKM furniture yaitu Root Art Magelang, CV Slam Klaten, CV CM3G Semarang, KIBTI Furniture Jepara dan Sun Elok Jepara. Satu UKM ekspor lainnya adalah UKM home decor yaitu Naruna Keramik Salatiga. 

Sebagai UMKM, dia lantas berharap kepada pemerintah biaya pengiriman kargo stabil sehingga pengiriman ke luar tetap berlanjut. "Harapan untuk pemerintah harga distabilkan seperti semula demi kelancaran produksi dan karyawan tetap bekerja," terangnya. 

Dinas Koperasi dan UKM Jawa Tengah mengungkapkan produk UKM Jawa Tengah semakin berkontribusi bagi ekspor Indonesia. Produk UMKM dari Jawa Tengah berhasil menembus salah satunya negara Belgia. Tak lepas dari kerja sama semua pihak baik Bank Indonesia, Kamar Dagang Indonesia (KADIN), Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (ASMINDO) dalam program Badan Promosi dan Pemasaran Indonesia-Belgia-Codesignhub. 

"Program perdana yang akan dilakukan adalah promosi furniture UKM Jawa Tengah selama 12 bulan di Borgerhub, dengan konsep showroom yang melayani ritel maupun Hub pemasaran untuk pendekatan B to B," jelas Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jawa Tengah, Ema Rachmawati dalam Pelepasan ekspor sustainable furniture UKM Jateng untuk program Badan Promosi dan Pemasaran-Codesignhub Antwerp Belgia di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, awal November lalu. 

Dalam pengiriman tahap pertama, ekspor ini bervolume kontainer 20 ft, dengan jumlah barang ekspor 393 unit, dengan total nilai invoice dan packing list sebesar Rp113,19 juta, dengan asumsi kurs 1 dolar sebesar Rp14.200. Sedangkan, biaya untuk kerja sama promosi ekspor ini mencapai Rp2,495 miliar dengan asumsi nilai tukar ruiah pada Euro yaitu Rp17.500. 

Merujuk data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah mencatat nilai ekspor pada September 2021 naik 6,00 persen dibanding Agustus 2021, dari 967,60 juta dolar AS menjadi 1.025,66 juta dolar AS. Peningkatan ekspor pada September 2021 dibanding Agustus 2021 disebabkan oleh naiknya ekspor nonmigas. 

Ekspor non migas mengalami peningkatan yaitu sebesar 8,98 persen, dari 885,03 juta dolar AS menjadi 964,49 juta dolar AS. Sedangkan ekspor migas mengalami penurunan sebesar 25,92 persen, dari 82,57 juta dolar AS menjadi 61,17 juta dolar AS.

Adapun tiga negara tujuan ekspor nonmigas terbesar pada September 2021 meliputi Amerika Serikat dengan nilai 394,10 juta dolar AS, disusul Jepang 95,38 juta dolar AS dan Tiongkok US$ 85,51 juta dolar AS. Kontribusi ekspor ke tiga negara terssebut mencapai 56,29 persen dari total ekspor selama Januari-September 2021.

"Kontribusi pelaku UMKM terhadap pertumbuhan ekonomi nasional maupun Jawa Tengah cukup tinggi," timpal Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah, Pribadi Santoso. 

Bahkan, lanjut dia, mampu menyerap tenaga kerja hampir 90 persen dari angkatan kerja. Namun, kontribusi ekspor produk UMKM masih rendah dan kurang dari 15 persen.

Pribadi mengatakan, ada beberapa hal yang menjadi kendala bagi pelaku UMKM untuk bisa memasarkan produknya hingga ke luar negeri. 

Pribadi menjelaskan, beberapa kendala dihadapi pelaku UMKM itu oleh sebab itu pihaknya mencoba memfasilitasi ekspor produk asal Jawa Tengah. Hal ini bertujuan agar nilai ekspor produk UMKM bisa meningkat dan membantu pengusaha bangkit dari keterpurukan pandemi.

"Bahwa untuk perdagangan global ini masih banyak kendala. Misalnya biaya pengiriman mahal merupakan dampak dari harga minyak mentah naik. Kita bantu untuk saat ini saja, disebabkan ada kendala di pengiriman karena untuk menembus pasar ekspor itu enggak mudah," kata Pribadi Santosa. 

Pribadi Santosa mendorong dan meminta para pelaku UMKM asal Jawa Tengah, agar mempunyai akses pasar yang lebih luas melalui kegiatan ekspor.

Dongkrak Peluang Pasar Mancanegara 

UMKM berkontribusi terhadap roda perekonomian nasional baik pertumbuhan maupun penyerapan tenaga kerja. Namun kondisi UMKM di masa pandemi menurun karena pembatasan mobilitas dan daya beli menurun sehingga perlu didorong membuka akses lebih luas lagi. 

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengaku optimis, ekspor mampu mendongkrak perekonomian. 

Diakui, produk lokal Jawa Tengah memiliki potensi luar biasa. Misalkan, produk furniture di Jawa Tengah sangat unggul sehingga ada potensi besar produk Jawa Tengah dijual di luar negeri di masa mendatang. 

"Jateng itu memiliki furniture the best (terbaik). Apalagi soild wood-nya Jateng tidak ada yang mengalahkan di dunia," kata dia saat melepas pengiriman barang ekspor tahap pertama ini di Terminal Peti Kemas Semarang, belum lama ini. 

Gubernur Jawa Tengah saat melepas produk ekspor ke Belgia di Terminal Peti Kemas Semarang, belum lama ini. Dok Dinas Koperasi dan UKM Jawa Tengah. 

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jawa Tengah, Ema Rachmawati mengatakan, produk UKM asal provinsi ini akan dipasarkan di beberapa negara lain. Selain Belgia, produk UKM dari Jawa Tengah juga akan digenjot ke negara lainnya seperti Jepang, Australia dan India. 

Upaya Dinas Koperasi dan UKM Jawa Tengah dalam merintis ekspor ke Jepang dengan mengirimkan sampel makanan minuman dalam kemasan serta handicraft ke KJRI RI di Osaka. 

Sedangkan, dalam perintisan pasar ekspor Jepang ini, Dinas Koperasi dan UKM dibantu pula oleh Bank Indonesia. 

"Progres saat ini, untuk makanan dan minuman telah dipamerkan di Pameran Perdagangan RI di Osaka serta dua UKM handicraft yaitu Nasrafa Surakarta dan Bengok Craft Kabupaten Semarang lolos kurasi tahap pertama pada departement store terkemuka di Tsurya dan Mitsukoshi," jelas Ema. 

Untuk sasaran di pasar Australia, saat ini dalam tahap identifikasi dan kurasi sesuai permintaan pasar di Sydney. Produk UKM Jawa Tengah di negara Kanguru ini adalah produk food and baverage dalam kemasan, aksesoris, handicraft, fashion batik tulis atau tenun, briket, bahan industri plastik seperti alat rumah tangga, jas hujan, APD, kantong plastik, shrink roll, pallet cover, leno bag, sampai cover mobil. 

Sedangkan untuk rintisan pasar India, Konjen RI untuk Mumbai telah melaksanakan zoom meeting dengan Konjen RI untuk Mumbai dan pejabat FSSAI India.