Sengketa Lahan Sriwedari Belum Usai, Pemkot Solo Lanjutkan Penataan Kawasan Sriwedari

Meski sengketa antara Pemkot Solo dengan ahli waris RMT Wirjodiningrat  terkait lahan Sriwedari masih belum selesai, namun Penataan kawasan Sriwedari oleh Pemerintah Kota Solo terus berjalan.  


"Masterplan Sriwedari sudah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)," jelas Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Solo, Ahyani, Senin (27/12). 

Menurutnya Kawasan Sriwedari akan difokuskan untuk kegiatan budaya. Dan penataan kawasan Sriwedari sepenuhnya akan mengandalkan Corporate Social Responsibility (CSR). 

Di kawasan tersebut lanjut Ahyani banyak aset bangunan bersejarah dan masih berfungsi sampai saat ini.  Seperti Museum Radya Pustaka, Gedung Wayang Orang. Monumen PON, Museum Keris dan bangunan bekas Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Mengunjayan.

"Untuk Gedung wayang orang nantinya akan dijadikan Museum Wayang Orang," imbuhnya. 

Selain itu ada juga kolam (danau) Segaran yang berada di dalam lahan Sriwedari akan ditata kembali dan dikembalikan seperti semula. Dengn dilengkap dengan jembatan dan pulau di tengah danau serta perahu. 

Nantinya anggaran yang digunakan untuk pembangunan dan penataan Sriwedari mencapai Rp. 200 miliar.  Namun anggaran tersebut hanya untuk sarana dan prasarana dan belum termasuk pembangunan gedung.

"Itu tidak akan menggunakan anggaran negara termasuk BUMN. Semuanya berasal dari Corporate Social Responsibility (CSR). Tidak ada BUMN, nanti dicarikan yang aman dari CSR. Bukan BUMN, tenang saja. Aman kabeh," tandas Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka.  

Upaya pembangunan dan penataan kawasan Sriwedari salah satu upaya, Pemkot Solo untuk mempertahankan lahan Sriwedari sebagai ruang publik bagi masyarakat Solo.

"Kan dulunya bon rojo (kebun raja), ya kita kembalikan ke fungsinya dulu sehingga masyarakat bisa memanfaatkan dan menikmati kawasan Sriwedari," pungkas Gibran.