Terjawab, Ini Penyebab Utama Banjir Kepung Jawa Tengah

Banjir yang terjadi akhir-akhir ini di Kudus dan Demak, disebabkan instensitas hujan tinggi dan adanya kerusakan lahan dikawasan daerah aliran sungai. Arif Edy Purnomo/Dok.RMOLJateng
Banjir yang terjadi akhir-akhir ini di Kudus dan Demak, disebabkan instensitas hujan tinggi dan adanya kerusakan lahan dikawasan daerah aliran sungai. Arif Edy Purnomo/Dok.RMOLJateng

Sejumlah wilayah di Jawa Tengah terendam. Menariknya, banjir terjadi nyaris bersamaan di beberapa wilayah 

Sebut saja Kabupaten Blora, Grobogan,  Demak, Pati, Kudus dan Kabupaten Jepara.

Cuaca ekstrem akibat kemunculan tiga bibit siklon tropis di wilayah Indonesia yang diperkirakan bakal terjadi hingga Maret 2024, disebut-sebut Badan Meteologo Klimatologi dan Geofisika (BMKG), menjadi 'biang keladi'-nya.

Namun berbeda dengan pengamat lingkungan, Hendy Hendro, yang juga Ketua Forum Daerah Aliran Sungai Kawasan Muria. Ia menyebut, banjir yang terjadi akhir-akhir ini dibeberapa wilayah, memang disebabkan instensitas hujan tinggi.

Namun, kondisi itu diperparah dengan kerusakan lahan dikawasan Daerah Aliran Sungai (DAS).

“Faktor lainnya karena berkurangnya tutupan vegetasi dan adanya perubahan tata guna lahan. Kerusakan lahan terjadi akibat aktivitas penambangan galian C dapat meningkatkan air permukaan (surface water) dan air larian (runoff),” ujar Hendy yang juga dosen Fakultas Pertanian Universitas Muria Kudus ini.

Hendy memaparkan, adanya lahan gundul dan berkurangnya tutupan vegetasi dapat menyebabkan berkurangnya air resapan (air infiltrasi) masuk kedalam tanah sebagai ground water air tanah.

“Perubahan tataguna lahan dari lahan hijau menjadi lahan terbangun dampaknya mengurangi air resapan atau infiltrasi dan memicu terjadinya air permukaan,” katanya.

Jika sebagian besar air hujan yang jatuh ke bumi menjadi air permukaan, imbuh Hendy, kemudian terakumulasi menjadi satu akan berubah menjadi air bah dan menimbulkan banjir.

“Dari uraian tadi intinya dapat disimpulkan, terjadi banjir diwilayah Jateng bagian timur Grobogan- Demak-Kudus-Pati-Jepara, bersumber dari munculnya bibit siklon tropis dan anomali iklim akibat pemanasan global,” terangnya.

Menurut Hendy, cuaca ekstrim ini ditandai curah hujan dengan intensitas tinggi dan disertai angin kencang. 

Akibatnya dapat memicu terjadinya bencana hidrometeorologi, berupa tanah longsor diperbukitan, banjir dikawasan bawah dan pohon tumbang.

Hendy menambahkan,  ancaman cuaca esktrem ini tentunya memicu banyak kerugian, baik secara materil dan imateril. Terjadinya banjir di pesisir pantai, juga disebabkan adanya fenomena Super New Moon atau fase Bulan Baru.

“Fenomena alam ini bersamaan dengan Perigee (jarak terdekat bulan ke bumi), sehinga memberikan dampak pada peningkatan ketinggian pasang air laut maksimum,” kata Hendy yang juga Dosen Fakultas Pertanian Universitas Muria Kudus ini.

Karena itu, lanjut Hendy, mengakibatkan terjadinya banjir pesisir (rob). Serta memicu terhambatnya air dari daratan menuju ke muara sungai. Bencana yang terjadi saat ini di sejumlah daerah, tidak hanya semata-mata karena siklon tropis saja.

Namun hal itu, imbuh Hendy, karena adanya perubahan iklim akibat pemanasan global dan menyebabkan anomali iklim yang berpotensi terjadinya cuaca ekstrem.

“Terkait perubahan iklim akibat pemanasan global karena adanya aktivitas manusia, seperti pembakaran batu bara, penggunaan bahan bakar fosil, pembuangan sampah, kegiatan industri, berkurangnya vegetasi yang mampu menyerap gas rumah kaca penyebab pemanasan global,” paparnya.

 Sedangkan terjadinya banjir di wilayah Jateng bagian timur meliputi Grobogan- Demak-Kudus-Pati dan Jepara, bersumber dari munculnya bibit siklon tropis serta anomali iklim akibat pemanasan global.

 “Jadi bencana yang terjadi saat ini, menurut pendapat saya tidak hanya disebabkan faktor alam (bencana hidrometerologi) saja. Namun juga disebabkan oleh manusia (bencana ekologis),” tutupnya.