Dinas Pendidikan (Disdik) Salatiga menggandeng Kejaksaan Negeri (Kejari) Salatiga mengimplemantasikan Hari Anti Korupsi Sedunia (Hakordia) dengan menggelar Lomba Pidato Anti Korupsi jenjang SMP.
- Setuju Dilaksanakannya PTM, Dewan Minta Semua Pihak Tidak Lengah Terapkan Protokol Kesehatan
- Pemerintah Wajib Mengupayakan dan Memenuhi Hak Anak
- UKSW Jadi PT Swasta Pertama Indonesia Buka Prodi S3 Ilmu Akuntansi
Baca Juga
Hasilnya, enam SMP ternama di Salatiga baik kategori putra dan putri meraih juara.
Adapun kategori putri juara pertama diraih Vania Kariofilena dari SMP Islam Al Azhar 18 dengan skor 251, juara kedua Lauren Dominique Putri Pangalila dari SMP Anak Terang dengan skor 249, juara ke tiga diraih Ismeilisa Amanah dari SMP Islam Sunan Giri dengan skor 238 serta juara ke empat diraih Djie Fae Lovina Santoso SMP Kristen Satya Wacana dengan skor 237.
Sedangkan kategori putra juara pertama diraih Brama Listya dari SMP Negeri 1 dengan skor 255, juara kedua diraih Diwa Satrio Wicaksono dari SMP Muhammadiyah Plus dengan skor 246 dan juara ketiga diraih Muhamad Dliya Uddin SMP Muhammadiyah dengan skor 245.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Salatiga, Yuni Ambarwati mengatakan, kegiatan lomba pidato anti korupsi jenjang SMP sebagai upaya implementasi anti korupsi kepada siswa.
"Sekaligus menanamkan perilaku anti korupsi mewujudkan profil Pancasila kepada pelajar," kata Yuni Ambarwati, ditengah penyerahan hadiah kepada pemenang di Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Salatiga, Kamis (9/10).
Ia mengungkapkan, kegiatan lomba sekaligus menanamkan kepada para siswa termasuk dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara, Kepala Kejaksaan (Kajari) Salatiga Moch Riza Wisnu Wardana SH MH mengapresiasi, kegiatan lomba tersebut sebagai bagian dari pembelajaran sejak dini.
"Harus tetap dan masuk dalam korikulum pendidikan. Mulai dari keluarga, madrasah adalah ibu-ibu meski tidak mengecilkan peran ayah," papar Kajari.
Perilaku anak sejak dini, ungkapnya, dimulai dari peran ibu. Mengingat, sejak dalam kandungan termasuk pembelajaran sejak dini.
Pembentukan karakter juga dimulai dari keluarga hingga Perguruan Tinggi (PT).
"Jika sudah terbentuk, insyallah akhlak terbentuk. Pengalaman saya, saya masuk kejaksaan tahun 1994. Pindah sudah 12 tempat, sehingga kegiatan lomba ini ada dasarnya," imbuhnya.
- Inovasi Pencegahan Stunting Terintegrasi Melalui Swadaya Warga Kutowinangun Lor, Menjadi 'Role Mode' di Salatiga
- 21 Sekolah di Salatiga Ditutup Buntut Ditemukan Kasus Covid-19
- Disdik Salatiga Masih Kaji Pelaksanaan Penilaian Tengah Semester