15 Tahun Menabung, Tukang Parkir Di Boyolali Gagal Berangkat Haji Tahun Ini

Sri Suharto warga Sawahan, Ngemplak, Boyolali hanya bisa pasrah saat impiannya bisa naik haji bersama istrinya, Suminem tahun ini terpaksa harus ditunda. Pemerintah terpaksa membatalkan ibadah haji tahun ini, karena pandemi Covid-19 masih terjadi.


Meski tahun ini keberangkatannya tertunda namun Sri Suharto dan Sumini tetap berfikir positif dan menerima semua ketetapan Allah dengan lapang dada, pasrah dan ikhlas.

"Jika saat ini dibatalkan dari pemerintah ya Alhamdulillah saya tidak apa-apa. Ikhlas lahir batin," jelasnya, Kamis  (4/6).  

Sri Suharto yang sehari-hari berprofesi sebagai seorang tukang parkir ini, berketetapan hati ingin menunaikan rukun Islam  ke 5, yakni naik haji. Untuk mewujudkan mimpinya, Sri Suharto rela menyisihkan sedikit dari penghasilannya untuk ditabung.

Rupiah demi rupiah dikumpulkannya hingga lebih dari 15 tahun lamanya. Hingga akhirnya di tahun 2011 dirinya bersama sang istri mendaftarkan diri untuk bisa berangkat haji. Pria kelahiran 30 Mei 1964 ini akhirnya bisa melunasi biaya perjalanan haji berdua dengan istrinya masing-masing sekitar Rp. 36 juta.

Hampir 15 tahun lamanya  dirinya menyisihkan uang dari pendapatnya sebagai tukang parkir. Untuk nominal tabungannya tergantung dari pendapatan yang diperolehnya. Sebagian untuk biaya makan, sebagian lagi ditabung untuk biaya naik haji.  

Jika dalam sehari mendapatkan Rp. 100 ribu, Rp. 75 ribu untuk biaya tabungan haji dan sisanya Rp. 25 ribu untuk makan sehari-hari. Kerja sebagai tukang parkir dimulai dari jam 12 siang hingga jam 9 malam. Setidaknya dalam sebulan mampu menyisihkan Rp. 500 - Rp. 1 juta. Dirinya rela makan seadanya agar bisa menyisihkan uang untuk biaya berhaji.

"Selama 15 tahun saya nabung pingin berangkat haji bareng istri. Alhamdulillah bulan Februari kemarin sudah lunas. Bahkan dari tabungan haji itu masih ada sisa Rp. 7 juta," ucapnya dengan menahan tangis.

Sri Suharto juga menyebut dirinya juga pernah menjalankan ibadah umroh tahun 2014 lalu Dia berangkat sendiri tanpa ditemani sang istri. Dari pengakuannya sebenarnya ingin mengajak serta istrinya untuk berangkat umroh.

"Tapi sangune (biayane) mboten enten yen sekalian," jelas Sri Suharto.

Tak patah semangat dirinya tetap berupaya agar bisa berangkat haji bersama istri. Mengumpulkan rupiah agar bisa melunasi biaya haji. Tak lupa setiap waktu memanjatkan doa agar dirinya bersama istri bisa berangkat haji.

"Pokoknya saya habis sholat itu, doa ke Allah, duh gusti semoga aku sekalian bisa haji ketempat ibadah suci ke Mekkah Madinah, aku minta rezeki yang halal, habis sholat selalu membaca doa labaikallah humma la baik, mohon ampun dari Allah," terangnya.  

Dirinya mengaku selama menjalani pekerjaan sebagai juru parkir, banyak orang yang memberi rejeki. Kebanyakan mereka memberi uang parkir lebih dan kembaliannya tidak pernah diminta.

"Banyak itu yang parkir susukannya (kembalian) tidak mau Nerima, dikasihkan sama saya. Parkir motor Rp. 2000, kasih Rp. 5000. Parkir mobil Rp. 3000, dikasih Rp. 10.000 itu sering terjadi," jelasnya lebih lanjut.

Sri Suharto sebenarnya mengaku minder, karena dirinya dan istri hanyalah orang biasa. Sedangkan rombongan haji yang akan berangkat kebanyakan orang berlebih. Pegawai, pedagang, saudagar. Namun istrinya selalu memberi semangat kepadanya.

"Pokoknya awake dewe ra ndue sangu yo wes ben, niat ingsun ibadah, pengen selamat dunia akhirat (pokoknya kita nggak punya uang biarlah. Niat kita ibadah, biar selamat dunia akhirat. Itu kata istri saya," paparnya.

Saat ini meski keberangkatan hajinya terpaksa ditunda, menurutnya itu bagian dari ujian kesabaran. Dan sambil menunggu keputusan dari pemerintah dirinya hanya berharap agar Allah selalu memberikan perlindungan dan keselamatan bagi dirinya dan istrinya juga keluarganya.