Pemerintahan Joko Widodo diingatkan soal rupiah yang masih
saja loyo. Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antar bank di Jakarta
sore tadi ditutup melemah sebesar 60 poin menjadi Rp 14.390 per dolar
AS.
- BARDI Siap Bersaing di Pasar Smart Home
- Kementerian ESDM Sosialisasikan Pelabelan Hemat Energi Lampu LED di Semarang
- Semen Gresik Raih Best Annual Report dalam ajang PRIA 2022
Baca Juga
"Ini menjadi lampu kuning bagi pemerintah untuk mengambil upaya serius dalam upaya pengendalian pelemahan ini," kata Sekjen Lumbung Informasi Rakyat (Lira), Budi Siswanto, melalui pesan elektronik, Senin (2/7) dikutip dari Kantor Berita Politik RMOL
Dia katakan pelemahan rupiah berisiko terhadap peningkatan biaya tinggi produkuksi yang tergantung dengan bahan impor. Tingginya biaya produksi berakibat produk yang dihasilkan tidak kompetitif di pasar dalam negeri.
Selain itu, kata dia, pembangunan infrastruktur dan transportasi yang jadi program pemerintah juga akan kena imbas biaya tinggi karena masih perlu produk impor untuk komponennya.
"Sehingga cost produksi tinggi, target penyelesaian akan terganggu yang pada akhirnya masyarakat akan jadi korban," tegas Budi.
Dia menilai kenaikan harga BBM non subsidi yang dilakukan secara diam-diam harus dicermati adalah efek ikutan dari melemahnya nilai rupiah terhadap dolar AS. Meski tidak akan berdampak langsung karena penggunanya terbatas pemilik kendaraan kelas menengah, tapi tetap perlu diwaspadai karena akan berakibat pada persoalan lain.
"BBM jenis lain yang tersubsidi juga akan menggerus cadangan devisa negara," tukasnya.
- Poktan Baru di Desa Kaliajir Resmi Dikukuhkan, Berikut Tujuan Utamanya
- Tindaklanjuti Inpres, Desa Sidorejo Bentuk Koperasi Merah Putih
- KAI Daop 4 Semarang Sudah Layani 124.381 Pelanggan Selama Libur Idul Adha