Angka kematian ibu hamil dan melahirkan di Kabupaten Sukoharjo meningkat selama Pandemi Covid-19.
- Waspadai Penyebaran PMK, Dispertan PP Karanganyar Pantau Lalu Lintas Perdagangan Hewan
- RSUD RAA Soewondo Pati Sediakan Puluhan Tempat Tidur Bagi Caleg yang Stres
- MPR RI : Penanganan Stunting Harus Menjadi Kepedulian Bersama
Baca Juga
Angka kematian ibu hamil dan melahirkan di Kabupaten Sukoharjo meningkat selama Pandemi Covid-19.
Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sukoharjo, tahun ini sampai dengan September 2020 ada tujuh kasus kematian ibu. Angka tersebut naik dibandingkan dengan tahun 2019 lalu, yang jumlahnya hanya lima kasus.
"Sampai bulan ini sudah ada tujuh kasus, ini tergolong cukup tinggi, karena dari empat kasus naik menjadi tujuh kasus, hampir dua kali lipatnya, semoga tidak ada lagi," ucap Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan (Kabid Yaskes) DKK Sukoharjo, Agus Kristiyanto, Senin (23/11).
Agus menjelaskan, penyebab angka kematian ibu hamil di tahun 2020 ini rata-rata mengalami pedarahan sebelum waktunya melahirkan dan plasenta menempel di jalan rahim.
Sementara di tahun 2019, penyebab terbanyak karena mengalami eklampsia atau masyarakat menyebut keracunan kehamilan, pedarahan, gangguan metabolik, gangguan emboli atau masuknya cairan ketuban masuk ke pembuluh darah.
Dia menyebutkan, banyak faktor lain yang mempengaruhi. Salah satunya adalah faktor ekonomi.
"Kondisi ekonomi secara tidak langsung juga menyebabkan, karena pedarahan berawal dari kurangnya asupan gizi," ujarnya.
Agus mengatakan, saat ini DKK Sukoharjo berupaya penuh untuk menekan angka kematian ibu hamil. Salah satunya dengan program Semilir Hasmat (Semua Bumil Melahirkan Harus Selamat).
"Pemeriksaan ibu hamil harus rutin, minimal sembilan bulan 2x. Dan sekarang standarnya bertemu dengan dokter obgyn, dokter umum dan dokter gigi," katanya.
Selain itu, mengingat masih dalam pandemi Covid-19, sehingga para ibu hamil diwajibkan untuk mengikuti swab tes. Upaya ini juga untuk menekan kasus positif Covid-19 kepada ibu hamil.
- Penyakit Kronis Masyarakat Bisa Dipantau Lewat Program SEGER MANIS
- KAI Daop 6 Selenggarakan Pelayanan Kesehatan Gratis di Klinik Mediska Sragen
- 90 Persen Siswa SMA Negeri 5 Sudah Tervaksin